Sabtu, 22 Juni 2013

Bonus Bintang Lima Bagi Ahli Ibadah

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



 “Atas setiap tulang jari manusia ada sedekah setiap kali matahari terbit. Engkau mendamaikan dua orang adalah sedekah; engkau menolong seseorang menaiki binatang tunggangannya atau menaikkan barang-barang di atasnya adalah sedekah; perkataan yang baik adalah sedekah; setiap langkah untuk shalat adalah sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari Muslim)
Seorang Muslim yang menginginkan keberkahan dari usianya harus mengikuti tata kehidupan harian dalam Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Seorang Muslim dituntut untuk tidur dan bangun pada waktunya. Ia harus sudah meninggalkan tempat tidurnya sewaktu fajar telah menyingsing atau paling lambat sebelum matahari terbit agar dapat mendapatkan segarnya udara pagi. Rasulullah saw selalu mendoakan keberkahan bagi umatnya yang bangun di pagi hari. “Ya Allah, berikanlah kepada umatku keberkahan di waktu pagi.” (HR Ahmad)
Sebaliknya, Allah dan Rasul-Nya mencela orang-orang yang mengubah tata kehidupan hariannya. Merak berjaga hingga larut malam tanpa ada hal bermanfaat yang dilakukannya, kemudian mereka tidur tanpa melakukan Tahajud dan tertinggal shalat Subuh. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw menjelaskan bahwa saat tidur, setan akan mengikat tengkuk manusia dengan tiga ikatan. Ketiganya hanya akan lepas apabila saat bangun ia berzikir (membaca doa), kemudian berwudhu, dan menunaikan shalat. Dengan menjalankan aktivitas ini, ia menjadi orang yang bersemangat, lapang dada lagi bersih jiwanya. Namun sebaliknya, apabila dia tidak melakukan aktivitas ini, ia akan menjadi orang malas atau kotor jiwanya. Di sini, kita menyaksikan sebuah perbedaan besar antara orang yang terlepas dari ikatan setan dengan orang yang terikat oleh ikatan setan.

Kehidupan seorang Muslim yang baik dimulai dengan taat kepada Allah, melaksanakan shalat wajib dan sunnah, serta memanjatkan doa-doa (ringan) pagi hari yang dicontohkan Rasulullah saw. Dalam waktu-waktu itu, seorang Muslim pun dianjurkan untuk membaca Al-Quran dengan khusyuk, tartil dan berusaha memahami maknanya.
Ia pun perlu sarapan sederhana sebelum menunaikan amanah pekerjaan atau melakukan sahur apabila dia akan berpuasa di siang harinya. Bekerja sungguh-sungguh dengan cara halal adalah kewajiban penting orang beriman. Islam mengajarkan kepada manusia untuk memanfaatkan setiap detik kehidupannya secara maksimal. Islam pun melarang seseorang untuk hidup menyendiri tanpa bekerja. Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abdillah bin Zubair, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk sesuatu di alam ini adalah pengangguran.” Dengan demikian, pekerjaan “duniawi” bagi seorang Muslim adalah bagian dari jihad apabila disertai niat yang lurus, dijalankan dengan penuh amanah, dan tidak sampai melalaikan dia dari mengingat Allah Swt.
Kewajiban lain yang tidak boleh dilupakan adalah berbakti pada masyarakat (setelah berbakti kepada orangtua dan keluarga), kemudian menolong orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, sesuai kapasitas dan kemampuan diri. Nabi saw menggolongkan hal ini sebagai sedekah. “Pajak kemasyarakatan” ini hukumnya wajib dalam setiap harinya, bahkan termasuk kewajiban harian bagi setiap sendi dan tulangnya. Beliau bersabda, “Atas setiap tulang jari manusia ada sedekah setiap kali matahari terbit. Engkau mendamaikan dua orang adalah sedekah; engkau menolong seseorang menaiki binatang tunggangannya atau menaikkan barang-barang di atasnya adalah sedekah; perkataan yang baik adalah sedekah; setiap langkah untuk shalat adalah sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari Muslim)
Pada siang hari, saat matahari sedikit condong ke Barat, seorang Muslim diseur untuk menunaikan shalat Zuhur tepat waktu dan berjamaah, akan sangat afdhal apabila dilakukan di masjid. Shalat di awal waktu adalah keridhaan Allah, adapun shalat berjamaah merupakan satu sunnah penting Rasulullah saw. Karena pentingnya shalat berjamaah, beliau pernah mengancam akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan amalan mulia ini. Tidak hanya pagi hari, pada siang hari pun ia dianjurkan untuk makan dengan makanan yang halal lagi baik dan tidak berlebih-lebihan.
Ketika shalat Ashar tiba, seorang Muslim akan segera meninggalkan hiruk-pikuknya pekerjaan dan perniagaan. Allah Swt berfirman, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (pada hari itu) hari dan penglihatan menjadi goncang. (QS An-Nur, 24:37)
Saat matahari tenggelam, ia harus segera menunaikan shalat Maghrib pada awal waktu karena waktunya sempit. Seandainya tidak ada urusan penting yang menuntut perhatian dan penyelesaian waktu itu juga, seorang Muslim dianjurkan untuk membaca doa-doa sore hari yang ringan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.
Setelah makan malam yang sederhana, seorang Muslim segera mendirikan shalat Isya’ dan shalat sunnat dengan mengakhirkan shalat Witir hingga akhir malam apabila ia terbiasa melaksanakan Tahajud. Kalau tidak biasa, ia dapat menunaikannya sebelum tidur. Sebelum beranjak tidur, masih ada kesempatan baginya untuk menunaikan hak dan kebutuhan lain, seperti bersilaturahmi, bercakap-cakap, dan sebagainya.
Hal yang tidak kalah penting, seorang Muslim harus menyediakan waktu untuk berolahraga, belajar, membaca buku, majalah atau lainnya yang bermanfaat bagi diri, agama, dan dunianya. Bukan pula suatu dosa bagi seorang Muslim untuk menghibur dirinya dengan permainan, hiburan atau rekreasi yang dihalalkan. Hiburan sama sekali tidak terlarang, asalkan tidak menyimpang dari aturan agama dan dilakukan secara proporsional.
Semua aktivitas ini, sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali, pada hakikatnya bernilai ibadah yang dikemas dalam satu paket sehingga menjadi sebuah pendekatan integratif yang komprehensif. Dengan demikian, ibadah adalah sebuah metode untuk mengoptimalkan fitrah (potensi) manusia secara menyeluruh. Bangun pada sepertiga malam terakhir dan shalat pada saat-saat matahari berada di titik tertentu di garis lintasannya sebagai contoh, haruslah dimaknai sebagai sebuah bentuk komunikasi antara makhluk dan Rabbnya.
Shaum Ramadhan yang Multifungsi
Miniatur dari tata kehidupan seorang Muslim sebagaimana telah dideskripsikan di atas, sejatinya tergambar jelas pada bulan Ramadhan ini. Pada bulan mulia ini seorang Muslim dikondisikan untuk hidup secara teratur, di mana unsure ibadah menjadi landasan utamanya. Oleh karena itu, ritual ibadah saat Ramadhan merupakan sebuah kesempatan berharga bagi orang-orang beriman untuk memperbaiki dirinya secara menyeluruh, baik luar dan dalam; jasmani maupun ruhani. Pada bulan yang penuh berkah tersebut, seorang Muslim diberi kesempatan untuk melatih diri, mengoptimalkan, sekaligus menyeimbangkan potensi fisik dan ruhiah yang dimilikinya.
Adapun peranan shaum untuk meningkatkan kualitas manusia dapat dijabarkan sebagai berikut.
Pertama, mengendalikan kebutuhan dasar manusia, khususnya kebutuhan terhadap makanan. Secara naluriah manusia menginginkan pemenuhan yang cepat, mudah, dan dengan hasil yang maksimal. Keinginan ini apabila tidak dikendalikan biasanya akan melahirkan sikap tergesa-gesa, tidak perduli terhadap sesame, dan menghalalkan segala cara. Itulah mengapa konsep hawwah yang berarti perut sering diasosiasikan dengan hawa nafsu. Manifestasi rasa lapar yang berawal dari perut dapat menjadi motivasi utama yang mendasari setiap gerak dalam hidup. Dengan tirual puasa motivasi dasar ini bisa dilatih dan dikendalikan agar berfungsi proporsional dan optimal dalam kehidupan. Melalui puasa tidak hanya sistem perncernaan saja yang terlatih menahan lapar, sistem pengambilan keputusan kita pun akan menjadi terlatih karena seluruh sistem tubuh terintegrasi, saling memengaruhi, dan saling bekerja sama. Maka tidak mengherankan apabila dampak positif puasa dapat diukur dari performa fisik yang bersangkutan, seperti berkurangnya penyakit saluran pencernaan, stabilnya kadar-kadar kolesterol dalam darah, kondisi jantung menjadi lebih sehat, dan sebagainya.
Kedua, mengoptimalkan jam biologis manusia. Allah Swt merancang manusia dengan sangat sempurna. Salah satu bukti kemahasempurnaan Allah adalah dikaruniainya manusia sebuah jam yang sangat canggih, yaitu jam biologis. Jam yang satu ini berfungsi mengatur semua kegiatan tubuh manusia, mulai dari bereproduksi, melakukan proses metabolism, sampai dengan istirahat. Pengaturan ini dilakukan oleh jaringan kerja hormon otak yang dikendalikan oleh kelenjar pineal (seat of the soul) yang diduga menjadi tempat bersemayamnya jiwa (soul).
Nah, ibadah yang dilakukan saat Ramadhan pada hakikatnya merupakan sebuah proses pelatihan yang sangat tepat untuk mengoptimasi jam biologis manusia. Tidur setelah Tarawih dan bangun pada sepertiga malam terakhir menjadi waktu istirahat yang paling sesuai dengan fluktuasi kadar hormone otak. Istirahat yang optimal akan berdampak pada kinerja perbaikan sistem tubuh dan peningkatan produktivitas pada hari berikutnya.
Ketiga, melatih kelembutan hati dan sikap empati. Kelembutan hati akan tumbuh seiring dengan meningkatnya kepekaan perasaan. Secara biologis kelembutan hati dan kepekaan perasaan diatur oleh hormone otak yang bernama serotonin, endorphin, dan preopioid melanokortin (POMC). Ketiga hormone ini secara bersama-sama akan mendominasi kinerja otak melalui latihan kesabaran dan rasa empati penderitaan orang lain seperti yang kita rasakan saat puasa.
Keempat, mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh (sistem imun) manusia. Ibadah puasa dapat menjadi metode yang sangat efektif untuk mengoptimasi kinerja sistem imun dan sistem endokrin manusia. Di dalam tubuh manusia yang sangat rumit dan terdiri atas milyaran sel terdapat suatu mekanisme komunikasi yang sangat canggih. Sistem komunikasi dalam tubuh manusia berdasar ruang lingkup konektifitas terbagi atas divisi: autokrin, parakrin, dan endokrin. Autokrin adalah komunikasi intrasel, diperankan oleh faktor transduksi, transkripsi, dan pertumbuhan. Parakrin adalah komunikasi intra jaringan (lokal), diperankan oleh sitokin dan faktor pertumbuhan. Adapun endokrin adalah komunikasi antar jaringan bahkan organ yang diperankan biasanya oleh hormon.
Cara kerja sistem kekebalan tubuh manusia pun sangat dipengaruhi oleh kinerja sistem hormone dari poros hipotalamus-hipofise-kelenjar anak ginjal. Betapa tidak, mekanisme sistem imun dipengaruhi langsung oleh kadar hormone glukokortikoid dan mineralokortikoid dari kelenjar anak ginjal. Sementara kinerja kelenjar anak ginjal sangat bergantung kepada keberadaan hormon ACTH dan CRF (corticotrophin releasing factor) dari poros hipotalamus-hipofise. Kadar kortisol yang tinggi akan menekan sistem imun seluler maupun humoral. Tertekannya sistem imun akibat tidak berimbangnya sistem endokrin biasa didapati pada keadaan ketegangan psikis (ansietas dan depresi). Kecurigaan juga dapat mengakibatkan tertekannya sistem imun melalui jalur hormon otak. Akibat nyata dari tertekannya sistem imun adalah rentannya manusia terhadap berbagai penyakit infeksi. Kondisi ketidakseimbangan hormone dan tidak optimalnya sistem imun ini pun dapat memicu munculnya penyakit-penyakit degenerative seperti jantung koroner dan perdarahan serebrovaskular (stroke).
Dengan demikian, melalui aktivitas berpuasa kita dituntut untuk mensinkronisasikan antara tuntutan kebutuhan dasar manusia (energy) dan pola pemenuhannya. Selarasnya kedua hal ini akan menjadikan pemenuhan kebutuhan eneergi melalui proses makan sebagai ibadah ghair mahdhah. Hal ini dapat menjadikan manusia bersifat penyayang, sabar, mampu memandang masalah secara berimbang, serta mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi dengan tepat. Kemampuan mengendalikan rasa lapar akan membawa manusia (berikut seluruh sistem tubuhnya) menjadi makhluk mulia yang produktif, tidak bersifat instan, serta mampu mengenal diri dan lingkungannya secara utuh.
Dengan menjalani ibadah puasa beserta aktivitas sahur di dalamnya, proporsi ibadah, waktu tidur-bangun, dan kegiatan harian yang kita lakukan adalah esensi nilai ideal yang mencerminkan proses manajemen waktu yang sesuai dengan potensi manusia.
Tidur setelah kita melakukan ibadah dan terbangun di penghujung sepertiga malam untuk makan sahur merupakan pola tidur yang paling tepat untuk manusia. Tepat di sini mengandung arti mampi mengoptimalkan tampilan dan kinerja sistem tubuh (khususnya endokrin atau hormonal) dab sistem pengambilan keputusan seorang manusia.
Bonus Bintang Lima
Semua ibadah­­­­˗˗˗khususnya yang bersifat mahdhah˗˗˗memiliki sifat repetitif, mengulang, dan regular atau rutin. Mengapa? Karena dengan mengoptimalkan waktu dan memaknai secara sempurna elemen-elemen yang terdapat dalam suatu ritual ibadah, sesungguhnya secara ilmu faal atau ilmu fungsi tubuh kita telah mengoptimalkan peran “segumpal daging”, yaitu yang disebut dalam Shahih Bukhari, jika segumpal daging tersebut baik, baik pula segalanya dan jika buruk, buruk pula segalanya. Dalam ijtihad penulis, segumpal daging tersebut adalah thalamus, sebuah stasiun pemancar sinyal otak yang terletak di otak bagian tengah. Jika thalamus telah terlatih dan terkendali, aksis atau sumbu HPA (hipotalamuspituitari-adrenalin) akan terlatih dengan baik juga.
Parameter yang dapat diamati adalah terkendalinya hormone pengatur kecemasan yang dinamakan kortisol. Jika kortisol berada dalam keadaan stabil, aka nada lima indicator ketakwaan yang akan muncul, yaitu:
  • Rasa tenang. Sensasi ini diatur dan dipengaruhi oleh kadar serotonin yang optimal, dalam arti tidak kurang dan tidak juga lebih.
  • Rasa senang. Sensasi ini diatur antara lain oleh kadar endorphin, yaitu suatu “morfin” otak yang berfungsi menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan. Jika seseorang mengonsumsi narkoba, perbuatan itu mengindikasikan adanya malfungsi otak atau kurangnya intensitas dan kualitas ibadah orang yang bersangkutan.
  • Rasa mencintai sesama yang dimanifestasikan dalam keinginan untuk berbagi (sedekah). Sensasi ini diperankan oleh oksitosin, sebuah hormon ysng sering dikaitkan dengan sistem reproduksi wanita. Apabila kita cermat mengamati, fungsi oksitosin jelas terlihat dalam diri seorang ibu yang penuh kelembutan, kasih sayang, dan perhatian yang tulus yang dia bagikan kepada segenap anggota keluarganya.
  • Rasa bugar. Sensasi sehat dan segar ini diperankan antara lain oleh vasopressin yang bertugas mengatur stabilitas cairan yang pada gilirannya juga akan memengaruhi kinerja jantung dan ginjal.
  • Rasa cinta yang ikhlas. Sebuah sensasi cinta hanya akan menempatkan Allah Swt sebagai satu-satunya tujuan hidup dan satu-satunya tempat kita bergantung. Qul huwallaahu ahad, Allaahush-shamad.
Insya Allah, seorang Muslim yang menjalani hari-harinya dengan mencontoh Rasulullah saw secarakaffah akan mampu merasakan ketenangan hidup di dunia (bebas dari sifat keji dan mungkar) yang akan mengantarkan kita untuk meraih surge kelak di akhirat. Dengan kata lain, semua ibadah yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya, merupakan sebuah “paket tarbiyah” untuk mengoptimalkan fungsi otak dan pikiran agar selaras, selamat, dan bermanfaat di dunia maupun di akhirat. Dan, momen Ramadhan adalah saat tepat untuk melatih dan mewujudkan hidup berkeseimbangan, yang merupakan perwujudan dari konsep takwa. ***
 
Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M. Kes

 

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Dasyaaaaatttt. semoga bisa menjalankannya. Aamiin...

Nurul Nanda mengatakan...

Subhanallah.. Memang Ramadhan hanya akan berlimpah berkahnya jika kita mengikuti keseharian di bulan Ramadhan itu sesuai dengan sunnah Rasul. Selama ini selalu merasa tidak pernah optimal menjalani bulan Ramadhan. Ya Allah, pertemukan aku lagi dengan Ramadhan dan berkahmu. Bismillah, hamasah!

Nice post, admin ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...